Sunday, January 24, 2016

Tuchel Puas dengan Performa Dortmund, Puji Hummels


 Tuchel Puas dengan Performa Dortmund, Puji Hummels

Borussia Dortmund tampil meyakinkan saat menggebuk Borussia Moenchengladbach 3-1. Pelatih Dortmund Thomas Tuchel mengaku puas dengan performa timnya dan secara khusus memuji sang kapten, Mats Hummels.

Menyambangi Borussia-Park dinihari tadi, Die Borussen tercatat menciptakan 4 percobaan ke arah gawang dari total 12 percobaan, termasuk tembakan Ilkay Guendogan yang mengenai mistar. Sementara Gladbach hanya melahirkan 3 percobaan ke arah gawang dari total 10 percobaan.

Keunggulan Dortmund dibuka oleh gol Marco Reus di menit-menit akhir babak pertama. Henrikh Mkhitaryan menggandakan skor di awal babak kedua sebelum Gladbach memperkecil kedudukan lewat Raffael sebelum laga berjalan sejam.

Tim tamu mengunci pertandingan setelah Guendogan mencetak gol ketiga Dortmund di menit ke-75 untuk memastikan mereka membuka paruh kedua musim dengan kemenangan.

Hummels tampil gemilang selama 90 menit dengan banyak memenangi tekel-tekel untuk merebut bola. Statistik Whoscored, memberi bek tengah Dortmund itu nilai 8,5 yang paling tinggi setelah Mkhitaryan [9,6] dan Guendogan [9].

"Kami tahu kami butuh performa yang tangguh pada hari ini. Tadi adalah sebuah performa yang solid," kata Tuchel sebagaimana dikutip dari Bundesliga.com. "Gladbach adalah tim yang berani untuk membangun serangan, jadi kami perlu memastikan kami membatasi mereka."

"Mereka adalah lawan yang sulit, terutama di depan pendukungnya sendiri. Hummels? Dia memperlihatkan performa seorang kapten sejati pada hari ini -- saya tidak bisa mengharapkan yang lebih banyak lagi sebagai pelatih."

Wednesday, January 20, 2016

Madrid Kalahkan Barca dan MU di 'Liga Uang'


 Madrid Kalahkan Barca dan MU di Liga Uang

Barcelona boleh saja memenangi lima gelar juara di tahun 2015, tapi soal pemasukan klub mereka bukan yang terbaik. The Catalans kalah dari Real Madrid.

Demikian daftar yang dirilis perusahaan auditor, pajak dan konsultan keuangan Deloitte. Dalam daftar yang disebut dengan 'Deloitte Money League' tersebut, El Real berhasil mempertahankan posisi teratas yang mereka punya sebagai klub dengan jumlah pemasukan terbesar di dunia.

Madrid disebutkan mendapat pemasukan sebesar 439 juta poundsterling (lebih dari Rp 8,6 triliun) di sepanjang musim 2014/2015. Angka tersebut merupakan peningkatan dibanding musim sebelumnya dengan total pemasukan mencapai 418 juta poundsterling.

Los Merengues mengalahkan Barcelona yang ada di posisi dua dengan jumlah pemasukan sebesar 427 juta poundsterling (lebih dari Rp 8,3 triliun). Pendapatan The Catalans juga meningkat dibanding periode sebelumnya, yang sebesar 394 juta poundsterling.

Meski performanya tengah naik-turun, Manchester United masih berada di posisi atas daftar ini. Dengan pemasukan musim 2014/2015 sebesar 392,5 juta poundsterling (Rp 7,7 triliun), The Red Devils ada di posisi tiga. Mereka turun satu anak tangga dibanding musim sebelumnya.

Urutan empat ditempati Paris Saint Germain yang mengantungi pemasukan 365,8 juta poundsterling (Rp 7,1 triliun) di musim lalu. Di bawahnya ada Bayern Munich dengan 360,6 juta poundsterling (Rp 7,08 triliun).

Menggenapi posisi 10 besar dalam daftar ini adalah Manchester City, Arsenal, Chelsea, Liverpool, dan Juventus.

Dominasi klub Premier League tak cuma terjadi di posisi 10 besar. Dalam 30 posisi teratas daftar klub dengan pemasukan terbesar musim 2014/2015 itu 17 di antaranya adalah klub Inggris.

Jumlah pemasukan yang dijadikan acuan dalam penghitungan ini adalah uang yang didapat dari hari pertandingan, hak siar dan sumber-sumber komersial lainnya.

Dalam hal pemasukan dari hari pertandingan, Arsenal berada di posisi teratas dengan 100,4 juta poundsterling. Sementara Madrid ada di urutan kedua dengan 98,7 juta poundsterling.

Untuk hak siar, klub dengan pemasukan terbesar adalah Madrid (152 juta poundsterling), diikuti Barcelona (151,9 juta poundsterling) dan Juventus (151,4 juta poundsterling).

Sementara untuk pemasukan dari keras komersial, PSG ada di urutan teratas dengan 225,9 juta poundsterling. Bayern menguntit di posisi kedua (211,6 juta poundsterling) dan Manchester United 200,8 juta poundsterling.

Rakitic: Laga di San Mames Selalu Berat


 Rakitic: Laga di San Mames Selalu Berat

Barcelona cuma memetik kemenangan tipis saat berhadapan dengan Athletic Bilbao di laga leg I perempatfinal Copa del Rey. Penggawa Los Cules, Ivan Rakitic, bilang bahwa laga di San Mames selalu berat.

Gol dari Munir El Haddadi dan Neymar menjadi penentu kemenangan Barca saat berhadapan dengan Los Leones. Tim tuan rumah bisa mencetak gol balasan lewat Aritz Aduriz di menit-menit akhir pertandingan.

Opta mencatat bahwa gol Aduriz itu merupakan gol keenamnya ke gawang Barca saat dilatih oleh Luis Enrique. Jumlah itu menjadi yang paling banyak dibanding pemain lainnya.

Di laga itu, Barca tampil seperti biasa dengan keunggulan ball posssesion. Mereka menorehkan sebanyak 62 persen penguasaan bola.

Soal peluang, Bilbao malah mencatatkan lebih banyak. Mereka mampu membukukan 11 kali percobaan, empat kali tepat sasaran, dan cuma satu berbuah gol.

Sementara itu, Barca membukukan dua attempts on target lebih sedikit, empat tepat sasaran, dua berbuah gol. Dengan catatan statistik itu, wajar kalau Rakitic bilang kemenangan atas Bilbao didapat dengan tak mudah.

"Kami harus menikmati kemenangan ini, tapi juga mulai bersiap untuk laga berikutnya melawan Malaga," kata Rakitic di situs resmi Barca.

"Kami sangat layak memetik kemenangan ini, hasil dari kerja keras. Kami senang dengan cara bermain kami hari ini."

"Hasil akhirnya bisa lebih baik tanpa gol mereka, tapi saya pikir kami merupakan tim terbaik."

"Athletic selalu susah dikalahkan terutama saat di kandang mereka," imbuhnya.

Simeone Sebut Hasil Imbang Tanpa Gol Lebih Menguntungkan Celta


 Simeone Sebut Hasil Imbang Tanpa Gol Lebih Menguntungkan Celta

Atletico Madrid cuma seri 0-0 di leg pertama perempatfinal Copa del Rey di markas Celta Vigo. Hasil itu disebut Diego Simeone menguntungkan Celta di leg kedua.

Melawat ke Balaidos, Kamis (21/1/2016) dinihari WIB, di laga leg pertama babak perempatfinal Copa del Rey, Atletico hanya mampu membawa pulang hasil imbang 0-0.

Dalam pertandingan tersebut, Atletico kalah dominan jika dibandingkan Celta. Penguasaan bola Antoine Griezmann dkk. hanya 44% berbanding 56% milik tuan rumah. Atletico juga tak efektif di depan gawang setelah hanya dua dari 10 tembakannya yang mengarah ke sasaran.

Dengan hasil tersebut, Atletico wajib menang di leg kedua yang akan digelar di Vicente Calderon pekan depan jika ingin melaju. Sementara bagi Celta, hasil imbang minimal 1-1 sudah akan meloloskan mereka ke semifinal. Simeone pun mengakui kalau hasil di leg pertama lebih menguntungkan untuk Celta.

"Itu tadi adalah pertandingan yang terbuka. Mereka punya persentase penguasaan bola yang lebih baik," ujar Simeone usai pertandingan seperti dikutip situs resmi klub.

"Hasil imbang apapun sekarang akan menguntungkan mereka dan itulah yang tampak untuk pertandingan berikutnya," imbuhnya.

Masih bersaing di Copa del Rey membuat jadwal pertandingan Atletico cukup padat di tengah persaingan ketat La Liga. Dalam sembilan hari ke depan, Atletico akan menjalani tiga laga yang tak bisa dibilang enteng. Atletico akan menghadapi Sevilla (La Liga), Celta (Copa del Rey), dan Barcelona (La Liga).

"Kami tahu itu. Sejak kami lolos, kami tahu bahwa akan ada lebih banyak usaha yang diperlukan sebagai tanggung jawab mengikuti kompetisi dan tuntutan pertandingan," lanjut Simeone.

"Sekarang kami harus beristirahat, makan dan mempersiapkan pertandingan dengan baik untuk mencapainya dengan cara terbaik," katanya.

'Biarkan Bocah-bocah Liverpool Berkembang Tanpa Tekanan Berlebih'


 Biarkan Bocah-bocah Liverpool Berkembang Tanpa Tekanan Berlebih

Para pemain muda Liverpool unjuk potensi ketika menaklukkan Exeter City 3-0 di laga replay babak ketiga Piala FA. Juergen Klopp meminta semua pihak tak buru-buru menyematkan harapan berlebih.

Liverpool menjalani laga ulangan melawan Exeter di Anfield, Kamis (21/1/2016) dinihari WIB tadi, setelah hanya bermain imbang 2-2 di laga sebelumnya. Di partai ini, Klopp kembali menurunkan skuat yang mayoritas pemain muda.

Sebagai sterter, Liverpool memainkan Connor Randall, Tiago Ilori, Brad Smith, Cameron Brannagan, Kevin Stewart, Jordon Ibe, dan Joao Teixeira. Itu belum termasuk Sheyi Ojo dan Pedro Chirivella yang masuk sebagai pengganti.

Para pemain muda ini menjawab kepercayaan Klopp dengan relatif meyakinkan. Statistik menunjukkan mereka tampil dominan dengan penguasaan bola 61%, juga melepaskan lebih banyak percobaan. Ada 26 tembakan yang diarahkan dengan 11 tepat sasaran, sedang Exeter punya enam upaya di mana hanya satu yang on target.

Bahkan dua dari tiga gol Liverpool ditorehkan oleh wakil pemain muda. Ojo mencetak gol di menit ke-74 diikuti Teixeira di menit ke-82. Keduanya menyusul gol Joe Allen yang membuka skor saat laga berjalan 10 menit.

Klopp kini cuma berharap anak-anak muda ini tak dibebani harapan berlebihan dan diberikan keleluasaan untuk berkembang.

"Jalannya masih panjang untuk anak-anak muda ini, tapi mereka sudah menunjukkan apa yang mereka mampu lakukan dan mereka harus belajar," kata Klopp dikutip Sky Sports.

"Semua orang perlu tetap santai, bukannya melindungi mereka tapi sekadar memberikan anak-anak ini waktu untuk berkembang. Malam ini adalah momen yang bagus, ada sejumlah hal yang mengesankan tapi banyak hal lagi untuk dipelajari."

"Pada akhirnya targetnya adalah bermain untuk Liverpool FC di Premier League dan untuk ini Anda harus siap. Kami tidak bisa langsung memainkan mereka semua setiap pekannya di Premier League,"

"Beberapa bulan lalu ketika saya mengatakan kami perlu menjaga semua pemain terbaik kami di sini, Kent, Ojo, Stewart, dan Tiago masih dalam masa peminjaman," tandas manajer asal Jerman ini.

Ada Apa Denganmu, Benteke?


 Ada Apa Denganmu, Benteke?

Christian Benteke masih belum dapat memenuhi ekspektasi fans Liverpool sebagai andalan klub untuk medulang gol. Terakhir, penampilannya saat melawan Exeter City dikritik habis-habisan.

Dibeli dari Aston Villa dengan banderol 32,5 juta poundsterling, penampilan Benteke ketika musim memasuki paruh kedua tidaklah memuaskan. Benteke baru bikin tujuh gol dari 25 penampilan di seluruh kompetisi.

Tak cuma kurang produktif, Benteke dianggap juga tidak nge-blend dengan pola permainan Liverpool khususnya di era Juergen Klopp. Banyak yang menilai Benteke tidak cocok dengan gaya main Klopp dan lebih baik dicadangkan daripada merugikan tim.

Tekanan untuk Benteke bakal makin kencang menyusul performa buruknya saat Liverpool hadapi Exeter di laga replay babak ketiga Piala FA, Kamis (21/1/2016) dinihari WIB.

Bermain selama 90 menit, Benteke jadi pemain dengan jumlah shots terbanyak yakni 8 attempts, sepertiga dari total attempts Liverpool yang mencapai 26 di laga itu. Tapi dari delapan itu, hanya tiga yang on target.

Selebihnya, Benteke lebih banyak buang-buang peluang termasuk di menit akhir pertandingan ketika dalam posisi satu lawan satu, tembakannya malah melenceng dari sasaran.

Bahkan kontribusi Benteke atas lahirnya dua gol Liverpool, yakni key passes pada gol Joe Allen dan assist untuk gol Joao Teixeira, sama sekali tidak dianggap.

Ini makin menenggelamkan pemain asal Belgia itu yang mulai dirasa lebih pantas ada di bangku cadangan dan memberi tempat untuk Roberto Firmino atau striker yang baru yang bakal dibeli Liverpool.

"Saya melihatnya usai pertandingan dan dia dalam kondisi yang bagus," ujar Klopp membela performa Benteke.

"Ini bukan laga yang menyenangkan untuk seorang striker, semua pemain bertahan bahkan sampai melompat di hadapannya," sambungnya seperti dikutip Soccerway.

"Wasit pun tidak membantu. Ada banyak situasi, khususnya di awal pertandingan, ketika dia dilanggar. Saya tidak bisa melihatnya - mungkin itu pelanggaran yang biasa-biasa saja."

"Dia (Benteke) bekerja keras selama 92 menit, dan itu sangat penting untuk saya."

"Itu tentu bagus untuk dia dan kami, jika dia bisa mencetak gol malam ini, tapi ternyata tidak. Tapi dia juga punya andil dalam terciptanya ruang di sekitar dan di dalam kotak penalti."

"Striker tidak akan puas jika tidak mencetak gol. Itu wajar, tapi dia baik-baik saja," tutupnya.

Tujuh Posisi Berbeda Sergi Roberto


 Tujuh Posisi Berbeda Sergi Roberto

Sergi Roberto kembali menunjukkan kemampuannya untuk bermain di beberapa posisi berbeda saat Barcelona mengalahkan Athletic Bilbao. Pelatih Barca, Luis Enrique, pun tak ragu untuk memberikan pujian.

Posisi natural Sergi Roberto adalah sebagai seorang gelandang tengah. Akan tetapi, pesepakbola berusia 23 tahun itu menunjukkan bahwa dirinya bisa dipasang di banyak posisi lain.

Situs resmi Barca mencatat Sergi Roberto sudah bermain di tujuh posisi berbeda dalam 26 pertandingan di semua kompetisi pada musim ini dan menjulukinya sebagai "Mr. Versatile". Pada awal musim dia dimainkan sebagai bek kanan untuk menggantikan Dani Alves yang sedang cedera.

Setelah Alves pulih, Sergi Roberto kembali ke posisinya di sisi kanan lini tengah dalam formasi 4-3-3. Namun, saat Barca menjamu BATE Borisov di Liga Champions, dia dipasang sebagai pemain sayap kiri.

Sergi Roberto juga tampil apik di laga El Clasico melawan Real Madrid. Dipasang sebagai pemain sayap kanan, dia menyumbangkan satu assist dan membantu Blaugrana menang telak 4-0.

Saat Barca bertemu Granada di La Liga, Sergi Roberto beroperasi sebagai gelandang bertahan, posisi yang biasa diisi oleh Sergio Busquets. Dia kemudian bergeser ke sisi kiri lini tengah pada laga tandang melawan Espanyol di Copa del Rey.

Posisi terbaru yang bisa diperankan oleh Sergi Roberto adalah bek kiri. Cederanya Jordi Alba dan Jeremy Mathieu membuat dia dipercaya untuk menempati posisi tersebut saat Barca menang 2-1 atas Athletic Bilbao di San Mames, Kamis (21/1/2016) dinihari WIB. Dia tampil apik dan berperan besar dalam terciptanya gol kedua Barca yang dicetak Neymar.

redwinbet.com

"Dia adalah pemain yang siap bermain di banyak posisi. Hari ini kita melihatnya di posisi berbeda," puji Enrique.

"Itu sangat bagus karena tidak gampang bertahan melawan seorang pemain seperti (Inaki) Williams, yang sangat mengandalkan kekuatan fisik. Sergi punya fisik yang sangat bertenaga dan bisa menjadi seorang full-back yang hebat," kata Enrique.